Learn to be Their “Mama”

Posted: December 27, 2012 in Uncategorized
Tags:

aa

 

Lama tak posting…

Maklumlah gejolak kesibukan mahasiswi tingkat akhir yang sedang galau dengan proposal skripsinya terlebih lagi dengan hati yang masih dalam proses ‘penyembuhan’ membuat blog saya seperti tak ada penghuninya..

Ada yang perlu saya bagi disini…

4 hari kemarin 23 desember lalu,, saya turun lagi sebagai seorang fasilitator Daarut Tauhiid (DT) setelah ‘hibernasi’ selama hampir 6 bulan lamanya karena kesibukan kuliah dan PLP. Tiap liburan semester, Daarut Tauhiid Training Center (DTTC) selalu mengadakan sanlat liburan khusus untuk pelajar SD, SMP, dan SMA atau sederajat.. kali ini saya diamanahi mendampingi adik-adik sanlat kelas 1,2, dan 3 SD. Saya pikir ini merupakan keputusan yang cukup ‘berani’ bagi saya karena ini kali pertama saya turun memegang adik-adik SD, karena biasanya saya memilih untuk mendampingi adik-adik SMP atau SMA. Selain itu, saya pun tidak terlalu suka anak kecil, itulah sebabnya kenapa saya bilang ini adalah sebuah keputusan yang ‘berani’.

Awalnya, saya memilih untuk tida ikut bertugas sebagai fasilitator di sanlat kali ini karena kemarin-kemarin saya memang sangat sibuk dengan revisian proposal skripsi, tapi Allah berkata lain akhirnya ada saja jalannya, ini memang takdir…

Ada banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari sanlat 4 hari kemarin, pelajaran dari wajah-wajah polos dan sejuk tanpa dosa mereka. Mereka berjumlah 8 orang dari berbagai kelas 1, 2, dan 3 SD. Anak-anak ajaib itu bernama Tatum, Azka, Kayla, Ayasha, Kenaisha, Syanda, Amirah, dan Fatimah. Merekalah anak-anak hebat yang dikirim Allah untuk menemani hidup saya selama 4 hari kemarin. Dari berbagai didikan dari orang tua mereka masing-masing yang berbeda akhirnya disatukan dalam satu kelompok di bawah pengawasan saya…

Tatum, sang ketua kelompok yang sangat mandiri dan aktif

Azka, soulmatenya Tatum yang always ngekor kemana2 Tatum pergi😀

Kayla, anggota paling mungil yang pada hari pertama merengek-rengek minta pulang pengen ketemu maminya,, Nangis sampai jam 11 malam dan saya harus merelakan waktu istirahat saya melihat wajahnya berderai-derai air mata🙂

Ayasha, anak dengan hafalan Quran terbanyak. Dialah yang menjadi motivasi dan inspirasi saya selama 4 hari kemarin. Anak kelas 3 SD dengan perawakan yang cukup besar dan kedewasaan yang sangat tinggi. Secara tidak dia sadari, dia lah yang menjadi guru saya selama hari kemarin… Anak ini benar-benar membuat saya kembali besemangat untuk terus bisa menghafal.. Ada dialog yang sangat indah ketika pertama kali kita bertemu :

Ayasha : “Kak, kak Rifka mirip guru saya loh.”

Saya : “oya ? guru apa ?”

Ayasha : “Guru Tahfidz”

Gerimis hati saya ketika mendengar jawaban polosnya. Saya anggap dialog itu adalah doa.. Haru😥

 

Kenaisha, anak ini juga sangat aktif. Dia sangat rajin dan teliti menerapkan budaya DT. Dia adalah anak yang memperoleh bintang kebaikan terbanyak. Dia mendapat predikat peserta akhwat terbaik.. bangga saya🙂

Syanda, senyumnya paling cantik🙂 soulmatenya Kenaisha🙂 selalu pengen cerita hantu menjelang tidur🙂

Amirah, anak paling mungil diantara mereka bertujuh. Kelas 2 SD tapi sangat mandiri, ga banyak tingkah, ga susah kalo dibangunin, ga susah klo disuruh mandi, dan selalu bersemangat kalo disuruh minum obat dan dia menyeduh semua obatnya sndiri, ga pengen dibantu. Pernah saya menawarkan bantuan unuk membuka tutup botol obatnya, tapi dia bilang :’udah kak,aku bisa sendiri’… Paling kecil dan paling ceria. Dia satu-satunya anak yang tak pernah saya dengarkan keluhan dari mulut manisnya… ah, Amirah.. kakak bangga😀

Fatimah, hmmm anak ini paling manja diantara yang lain. sering mengeluh, dan selalu menganggap semua pekerjaan itu adalah susah. Dia juga penakut, makanya dia sering jadi bulan-bulanan temen sekelpmpoknya.. Dia juga aneh, selalu makan nasi pake keju.. Anak ini cukup ‘special’ dan paling menguji kesabaran saya tapi yang bikin saya terharu, dia sudah janji sama saya untuk jadi anak yang ga akan ngeluh-ngeluh lagi🙂

Mereka berdelapan sangat istimewa. Karakter mereka yang beragam bikin saya bener-bener merasa dididik bagaimana caranya menjadi ibu… Mereka berdelapan punya cerita sendiri-sendiri di hati saya.. Membangunkan mereka untuk tahajud, menyuruh mereka mandi, mangganti pakaian mereka, menyuapi mereka, mengobati saat mereka sakit, menenangkan mereka saat mereka kangen ibunya, memeluk mereka, membersihkan kotoran mereka karena ada beberapa dari mereka yang ngompol di celana, dan ngompol di lantai🙂 , mendongengkan mereka, bermain-main dan tebak-tebakan sebelum tidur , dan semuanya…  Mereka benar-benar membuat saya menjadi seorang ibu, seorang ummi, seorang mami, seorang mama…

Ingin rasanya cepat-cepat punya anak sendiri😀 tentu dengan menikah dulu dengan lelaki terbaik pilihan Allah🙂 Aamiin…

 

Ahhh.. rindu mereka. Jadi anak yang sholihah ya sayang.. Mudah-mudahan bisa dipertemukan lagi dengan mereka :’)

Comments
  1. waaaa, saya pengen nyantri ke DT.. huhuhuuu

  2. kachu says:

    sebelum dapet suami kan bisa sambil nyantri
    kali aja dapet suami seorang santri mba😀

    saya kuliah di stkip siliwangi bandung.. kalo mba ?

  3. chikuwiw says:

    wahhh mamiii kachuu,,ditungg ceritanya yaaa…bagi2 ilmunya😉

  4. Feni Nur O says:

    sokkk cepetannn…

  5. Evan says:

    Wah,, saya juga pernah jadi fasilitator sanlat.. awalnya agak susah diatur,, tapi pas terakhir sedih juga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s