Khitbah

Posted: November 11, 2014 in Uncategorized
Tags:

*cerita lama yang belum dishare*

Sebenarnya ini cerita di 2 bulan kemarin tapi belum sempat saya share. Yaa,,, tak apalah terlambat karena sayang sekali jika cerita bahagia ini Anda lewatkan🙂

Momen yang paling saya tunggu dalam hidup adalah ketika seorang lelaki beriman, bersahaja, dan sederhana memberanikan dirinya untuk meminang. Dan dia datang bertemu kedua orang tua saya bermaksud mengutarakan niat sucinya. Siapa dia? Saya ingin bercerita sedikit tentang bagaimana pertemuan kami terjadi.

Lelaki ini bukan lelaki asing yang baru hadir, melainkan dia lelaki yang sudah lama pernah hadir dalam hidup saya. Pertemuan saya dengannya di akhir tahun 2010, mengantarkan kami pada penjajakan yang lebih dalam, namun di oktober 2011 kami menyudahi semuanya. Saya dengan hidup saya, dia dengan hidupnya. Tidak ada sama sekali komunikasi di antara kami. Perpisahan kami saat itu benar-benar membuat saya harus benar-benar menghapus namanya dalam hidup saya. Satu tahun kenal dia, banyak perubahan yang saya alami, salah satunya adalah keputusan saya untuk berhijrah dengan hijab. Tidak banyak yang tahu bahwa hidayah berhijab itu datangnya lewat perantara dia. Dia tidak pernah menyuruh saya sedikitpun untuk berhijab. Tidak sama sekali. Namun….. keberadaannya menghadirkan sebuah arti. Arti yang sangat dalam yang tidak bisa saya ungkap disini. Hanya saya dan Tuhan yang tahu.

Akhir 2011, kami benar-benar lost contact. Saya lupa dia, mungkin dia juga lupa pada saya. Hingga akhirnya di awal 2012 Allah mengirimkan orang lain dalam hidup saya tapi ahhh.. bukan orang ini yang ingin saya ceritakan. Toh, orang itu hanya hadir sesaat kemudian enyah lagi. Setahun kemudian berlalu. Saya masih setia dengan kesendirian.

Kembali ke cerita awal. Di awal 2013, ternyata lelaki ini kembali. Dua tahun menghilang namun Allah mempertemukan kami lagi. Entah bagaimana awal pertemuan itu kembali terjalin. Saya lupa. Komunikasi kami membaik. Berbagai obrolan menuju jenjang lebih serius kerap kali kami bahas.

Hingga akhirnya, pada tanggal 7 November 2014 pukul 1 siang bertempat di kediaman Bpk. Makmur (Ayah saya) berlangsung pertemuan 2 keluarga besar dari 2 suku berbeda dan dari latar belakang keluarga yang berbeda pula. Penantian panjang itu hampir berakhir. Dia mengkhitbah saya.

Bagaimana perasaan kami saat itu? Gugup. Seperti mimpi.

Saat ibunya melingkarkan cincin di jari manis saya. Lirih kuucap doa dalam hati. “Ya Allah, lancarkanlah niat baik kami menyempurnakan agamaMu. Jadikan kami pasangan dunia akhirat”

Ada air menggenang di mata. Haru. Bahagia. Subhanallah…

Doakan kami menuju akad suci pernikahan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s